Minggu, 06 Mei 2012
Minyak Zaitun Pencegah Kanker
MINYAK zaitun dipercaya berkhasiat untuk kecantikan dan pengobatan sejak ribuan tahun silam. Bahkan, bapak kedokteran, Hippocrates, merekomendasikan jus buah zaitun segar sebagai obat sakit mental dan gangguan pencernaan.
Para ahli lalu melakukan sejumlah penelitian. Terbukti, dengan menambahkan sedikit minyak zaitun yang kaya vitamin E dan memiliki daya antioksidan ke dalam makanan, sistem pencernaan akan terlindungi dan menghindari risiko terkena kanker usus.
Tak hanya sistem pencernaan yang terlindungi, ternyata urusan kanker pun bisa dicegah oleh minyak zaitun. Dimitrios Trichopoulos dari Harvard, AS, menyelidiki kaitan konsumsi minyak zaitun dengan pertumbuhan kanker payudara. Ternyata kaum hawa yang mengonsumsi makanan kaya minyak zaitun, 25 persen lebih kebal serangan kanker payudara.
Itu memungkinkan. Sebab, kadungan lemak tak jenuh Omega 9 yang terdapat pada minyak zaitun cukup besar.
Sumber : http://www.metrotvnews.com
Kanker Pankreas
MUNGKIN terbentuknya kanker pankreas di tubuh membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum penderita benar-benar ambruk. Padahal, menurut ilmuwan Amerika Serikat, andai penyakit ini diketahui sejak dini, niscaya angka fatalitas yang mencapai 95 persen bisa dicegah.
Analisis genetik tumor oleh Howard Hughes Medical Institute dan Johns Hopkins University menegaskan, mutasi pertama kemungkinan terjadi 20 tahun sebelum penyakit ini menyebabkan kematian. Celakanya daya tahan hidup warga Inggris terhadap kanker pankreas tak jua membaik dalam 40 tahun ini.
Sudah begitu, penyakit ini acap kali menjadi agresif dan tidak merespon pengobatan saat kanker mulai terdeteksi. Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature ini menemukan, pertumbuhan tumor tampaknya lembat.
Para peneliti mengamati contoh jaringan, baik dari tumor primer pada pankreas dan jaringan tubuh lain di mana kanker telah menyebar, yang disebut tumor metastasis. Semua diamati, seperti bagaimana tumor terjalin, tanda-tanda mutasi, dan titik di mana kode genetik telah berubah. Hasilnya: tumor metastasis rata-rata bermutasi sebanyak 61 kali mutasi, di mana dua pertiganya ada pada tumor pankreas asal.
Karena mutasi genetik semacam itu terjadi pada laju yang relatif stabil, akumulasi dari mutasi tersebut memberikan pandangan berapa lama kanker terbentuk dan tumbuh pada setiap tahapnya.
Menggunakan 'jam molekuler', para peneliti memperkirakan, rata-rata butuh 11,7 tahun untuk mutasi gen tunggal pada sel pankreas sebelum benar-benar menjadi tumor pankreas 'matang'. Setelah itu tumor masih butuh waktu 6,8 tahun lagi sebelum sel tumor dari pankreas membentuk tumor di organ lain.
Namun, pada tahapan ini, biasanya banyak penderita mulai rapuh. Alhasil, sel pangkreas hanya butuh waktu kurang dari tiga tahun untuk "menenggelamkan" sang penderita selama-lamanya. Artinya, dari titik mulai hingga terakhir, perkembangan penyakit ini rata-rata butuh waktu hingga 20 tahun.
Dr Bert Vogelstein, peneliti, mengungkapkan, ada dua teori mengapa tumor pankreas begitu mematikan. Kemungkinan "mereka" agresif sejak awal, atau mereka berkembang dengan cepat saat penyakit ditemukan, sehingga hanya sedikit yang bisa dilakukan.
"Kami terkejut sekaligus senang saat menemukan bahwa teori kedua yang benar, setidaknya untuk fraksi besar tumor. Itu berarti ada jendela peluang untuk deteksi lebih awal terhadap kanker pankreas," ujar Bert.
Sementara Dr Elizabeth Rapley, dari Institute of Cancer Research Inggris mengatakan, temuan tersebut juga membantu menjelaskan mengapa penyakit kanker pankreas sangat sulit diobati saat sudah menyebar ke seluruh tubuh.
"Penelitian itu menunjukkan bahwa kode genetik telah berubah saat kanker sudah menyebar ke organ tubuh yang lain. Ini berarti mengembangkan terapi yang efektif untuk pasien dengan penyakit kanker stadium lanjut akan menjadi tantangan tersendiri."
Sumber : www.metrotvnews.com
Daun Nimba bisa Menekan Perkembangbiakan Virus HIV
Tahukah Anda pohon nimba? Mungkin kebanyakan masyarakat kita baru mendengarnya. Padahal tanaman ini biasa tumbuh subur di pinggir jalan sebagai pohon peneduh.
Tanaman Nimba memiliki bermacam khasiat yang berguna bagi kesehatan. Penelitian Sonia Arora, asisten profesor di Universitas Kean di New Jersey, menemukan adanya senyawa dalam ekstrak nimba. Senyawa itu diyakini dapat mencegah perkembang-biakan virus HIV/AIDS.
Jika penelitian ini benar, lanjut Arora, akan memberikan cara yang lebih murah dan mudah untuk melawan HIV/AIDS. "Dan, tentu saja ada potensi untuk menemukan obat baru berdasarkan molekul hadir dalam nimba," katanya.
Selain itu, ekstrak dari daun, kulit, dan bunga nimba selama ini digunakan di India untuk melawan bakteri patogen dan jamur. Sementara cabang pohonnya digunakan sebagai pengganti pasta gigi. Sedangkan ekstrak nimba juga digunakan untuk mengontrol penyebaran malaria.
Sumber : http://www.metrotvnews.com
Langkah Mudah Cegah kanker Serviks
KANKER SERVIKS atau kanker leher/mulut rahim adalah salah satu penyakit yang paling banyak dialami kaum perempuan. Di Indonesia, seorang perempuan diperkirakan meninggal setiap jam akibat kanker tersebut.
Data WHO pun menyebutkan, jumlah penderita kanker serviks di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Setiap tahun, terdeteksi lebih dari 15 ribu kanker serviks di Indonesia dengan sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian.
Disebut kanker leher rahim karena kanker terjadi di bagian leher rahim antara vagina dan rahim perempuan. Penyebab kanker serviks adalah virus HPV (human papillomavirus) atau virus papiloma manusia.
HPV menimbulkan kutil pada pria maupun wanita, termasuk kutil pada bagian kelamin, yang disebut kondiloma akuminatum. Dari ratusan jenis HPV, hanya beberapa saja yang bisa menyebabkan kanker.
Lantas, bisakah kanker serviks dicegah?
Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan Indrawati Dardiri mengatakan, penyakit kanker serviks bisa dicegah sejak dini dengan melakukan berbagai upaya pencegahan.
"Salah satunya adalah tidak berhubungan seksual dengan pria yang sering berganti-ganti pasangan," kata Indrawati di Jakarta, Sabtu (5/5).
Cara kedua adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual pada usia dini. Bila sudah menikah atau aktif secara seksual, perempuan wajib memelihara kesehatan tubuh, rutin melakukan pap smear, dan berhenti merokok, katanya.
Hal lain yang bisa dilakukan, masih kata dia, adalah memperbanyak konsumsi sayuran yang berwarna hijau tua dan kuning karena jenis makanan ini banyak mengandung beta karoten, vitamin C, serta E yang ampuh menangkal kanker
Sumber : http://www.metrotvnews.com
HPV Terkait dengan Kanker Paru?
HUMAN papillomavirus (HPV), virus yang umumnya ditularkan melalui aktivitas seksual dan pemicu kanker serviks, ternyata juga berperan dalam perkembangan kanker paru.
Dalam beberapa studi skala kecil, HPV ditemukan pada pasien kanker paru. Namun bagaimana peran virus ini pada perkembangan kanker paru, jika pun ada, masih belum diketahui dengan jelas, kata para peneliti dari International Agency for Research on Cancer (IARC).
"Hasil permulaan ini perlu diteliti dalam studi berikutnya untuk lebih jelas mengetahui peran HPV dalam kasus kanker paru," ujar ketua tim peneliti, Devasena Anantharaman, peneliti di Genetic Epidemiology Group, yang merupakan bagian dari IARC.
"Namun, dengan menentukan keberadaan virus ini dalam tumor paru bersama dengan penanda lainnya dari kanker yang terkait HPV, perlu ditentukan hubungan sebab akibatnya," kata Anantharaman.
Dalam studi yang mengamati jenis HPV di antara 1.633 pasien kanker paru dan 2.729 orang tanpa kanker paru, tim peneliti menemukan fakta bahwa mereka yang tidak menderita kanker paru memiliki jenis HPV lebih sedikit ketimbang pasien kanker paru. Di antara pasien kanker paru, peluang untuk memiliki delapan jenis HPV serius sangat tinggi.
Faktor risiko tertinggi untuk kanker paru adalah merokok, namun kebiasaan ini dinilai tidak meningkatkan kemungkinan terinfeksi HPV. Sedangkan hubungan antara HPV dengan kanker paru tetap terbentuk untuk mereka yang perokok, mantan perokok, maupun non-perokok. Hasil ini sama untuk pria maupun wanita.
Jenis HPV risiko tinggi, termasuk HPV16 dan HPV18, yang tercatat menyebabkan sekitar 70 persen kasus kanker serviks. Untuk jenis risiko rendah, seperti HPV6 dan HPV11, yang menyebabkan kutil pada kelamin, dan juga ditemukan dalam papillomatosis pernapasan, yaitu penyakit paru tak berbahaya, kata Anantharaman.
Sebenarnya ada vaksin untuk mencegah HPV, tapi apakah vaksin yang sama juga memiliki dampak pada kanker paru, sejauh ini belum jelas.
Sumber : http://www.metrotvnews.com
Langganan:
Postingan (Atom)
