Minggu, 29 Mei 2011

Love of Zuma

Love of Zuma - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - <a href="http://www.4shared.com/file/2aUwIkTF/Love_of_Zuma.html" target="_blank">Love of Zuma</a>

Sabtu, 28 Mei 2011

Gangguan Jiwa, Penyakit Nomor 2 Setelah Penyakit Kardiovaskular


Penyakit gangguan jiwa ada di posisi kedua dalam hal dana yang keluarkan untuk pengobatan. Peran keluarga dan perhatian pemerintah diharapkan dalam penanganan.

Gangguan jiwa mengakibatkan beban dana sosial untuk kesehatan masyarakat meningkat. Kini, posisinya di urutan kedua setelah penyakit kardiovaskular. Gangguan jiwa bisa berupa gangguan jiwa ringan seperti depresi sampai gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. 

Saat ini sedikitnya 60 persen pasien yang ditangani RUmah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor ada dalam kategori membutuhkan jaminan kesehatan dari pemerintah. "Gangguan jiwa ringan seperti depresi bisa menurunkan produktivitas sehingga beban dana sosial untuk kesehatan meningkat," kata irektur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor, dokter spesialis kesehatan jiwa Eka Viora, Sabtu (2/4).

Eka menekankan perlunya peran ibu dalam menekan jumlah penderita penyakit jiwa. Menurutnya, ibu yang sehat dan cukup berpengetahuan akan mampu memastikan kesehatan anak. "Setidaknya, mendeteksi dini gangguan jiwa agar segera diobati," ujarnya.

Sayangnya, data pada 2007 menunjukkan, angka kematian ibu masih 228 per 100.000 kelahiran hidup. Ini masih jauh dari target MDG’s pada tahun 2015, yakni angka kematian ibu 102 per 100.000 kelahiran hidup.

Eka merintis pembentukan komunitas bagi keluarga penderita gangguan kejiwaan yang selama ini dirawat di rumah sakit itu. Sekitar 200 keluarga penderita gangguan kejiwaan, bertemu di Istana Negara Bogor pada hari Sabtu yang dilanjutkan dengan pertemuan dinamika kelompok di Kebun Raya Bogor. "Pertemuan itu menekankan pentingnya pengetahuan dan peranan keluarga terhadap penanganan gangguan kejiwaan," kata Eka.

Sementar itu, Ketua Umum PJS Yeni Rosa Damayanti mengatakan, sekarang saatnya menuntut pemerintah memberikan perhatian lebih kuat terhadap lapisan masyarakat yang menangani persoalan kesehatan jiwa. (Lusia Kus Anna)
 Kompas.com

Gula-gula Tidak Membuat Gemuk


Kabar baik: studi terbaru menunjukkan, makanan sejenis gula-gula seperti coklat, permen, dan sejenisnya tidak akan menimbulkan kelebihan berat badan jika dikonsumsi secara wajar.

Carol O'Neil, dari Louisiana State Agricultural Center, yang terlibat dalam studi itu mendapati para partisipan studi yang hanya mengonsumsi 1,3 ons gula-gula per hari justru lebih ramping daripada mereka yang tidak mengonsumsinya.

Para partisipan pengonsumsi gula-gula cenderung mempunyai lingkar pinggang yang lebih kecil, bobot tubuh lebih ringan, dan Body Mass Index (BMI) yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya. Selain itu, para pengonsumsi gula-gula juga memiliki risiko peningkatan tekanan darah 14 persen lebih rendah serta penurunan risiko sindrom metabolisme sebanyak 15 persen.

Rata-rata BMI dan berat badan pengonsumsi gula-gula pun sedikit lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi. Misalnya, rata-rata BMI pengonsumsi gula-gula adalah 27,7 sedangkan rata-rata BMI yang tidak mengonsumsi gula-gula adalah 28,2.

O'Neil dan koleganya menganalisis survei diet untuk studinya tersebut terhadap 15 ribu partisipan berusia 19 tahun atau lebih selama tahun 1999 hingga 2004. Hasilnya, hanya 20 persen partisipan yang menjawab bahwa mereka mengonsumsi bermacam jenis gula-gula. Selain itu, orang dewasa mengonsumsi gula-gula lebih sedikit dibandingkan anak-anak.

Dalam survei tersebut, para peneliti juga mengajukan pertanyaan kepada partisipan tentang apa saja yang mereka makan dalam 24 jam sebelumnya. "Pertanyaan itu hanya menggambarkan apa yang mereka pikir telah dimakannya atau apa yang seharusnya mereka makan," kata Katherine Tallmadge, seorang ahli diet. Pada akhirnya, temuan studi itu pun meneguhkan pengetahuan ahli nutrisi, mengonsumsi sejumlah kecil gula-gula tidak akan merugikan.

Hal yang terpenting untuk diingat adalah berat badan tidak akan bertambah hanya dengan mengonsumsi gula-gula. Menurut Heather Mangieri, juru bicara American Dietetic Association, konsumsi kalori lebih banyak dari yang kita bakarlah yang bisa menyebabkan penambahan berat badan.

(Sumber: MyHealthNewsDaily)

Serba-serbi Insomnia


Istilah insomnia sering kita dengar, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Namun apakah sudah benar-benar dipahami. Lalu apa sebenarnya insomnia itu?

"Insomnia adalah kesulitan memulai atau mempertahankan tidur dan merupakan gangguan tidur yang paling banyak dialami manusia," ujar  dr. Andri, Sp. KJ, psikiater di Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang. Ia menambahkan, penelitian terbaru menunjukkan 30-45% orang dewasa di seluruh dunia mengalami insomnia. Sementara sumber lain memperkirakan ada 28 juta penderita insomnia di Indonesia.

Ada dua jenis insomnia yang biasa ditemui yaitu transient insomnia (insomnia sesaat) dan persistent insomnia (insomnia menetap). Insomnia sesaat biasanya disebabkan karena rasa kehilangan, rasa berduka, perubahan kehidupan dan stres fisik maupun mental. Menurut Andri, kondisi seperti ini biasanya tidak berbahaya.

Sedangkan ciri insomnia menetap biasanya ditandai dengan kesulitan memulai tidur yang umumnya disebabkan kecemasan atau ketegangan somatik/fisik. Pikiran yang terus berkecamuk menjelang tidur menjadi pemicu timbulnya kondisi ini. "Insomnia jenis ini biasanya terjadi jika terdapat masalah di kantor atau di rumah yang menimbulkan stres," kata Andri. Meski demikian, sebagian penderita insomnia ini bisa sembuh dengan jalan menikmati liburan.

Gejala gangguan tidur ini mudah dikenali. Apabila seseorang sulit untuk mulai tidur atau sulit untuk mempertahankan tidur, bisa jadi ia menderita insomnia. Kesulitan memulai tidur dapat disebabkan kondisi medis (rasa nyeri atau tidak nyaman yang ditimbulkan oleh sakit, adanya luka di sistem saraf pusat otak seperti pada pasien stroke) atau karena gangguan kejiwaan atau lingkungan (gangguan kecemasan, perubahan lingkungan, tekanan ketika akan menghadapi suatu peristiwa penting seperti akan menghadapi ujian).

Penderita insomnia yang sulit mempertahankan tidurnya juga bisa disebabkan oleh kondisi medis seperti sindrom henti napas saat tidur (sleep apnea), ada penyakit infeksi, rasa nyeri dan tidak nyaman karena penyakit, serta konsumsi alkohol yang berlebihan. Sementara depresi, skizofrenia, gangguan stres pasca trauma, gangguan siklus sirkadian, dan perubahan lingkungan merupakan kondisi kejiwaan dan lingkungan yang menyebabkan penderita insomnia sulit mempertahankan tidurnya.

Agar terhindar dari insomnia, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan. "Biasakan diri untuk tidur pada jam yang sama setiap malam," saran Andri. Ini penting untuk menjaga jam biologis tubuh tetap teratur. Sebab jam biologis tubuh selalu beradaptasi terhadap kebiasaan tidur seseorang. Sehingga jika seseorang yang biasa tidur jam 9 malam mengubah waktu tidurnya ke jam 12 malam, maka jam biologisnya akan ikut menyesuaikan dan ia tidak akan mengantuk pada jam 9 malam seperti sebelumnya.

Sementara para penderita insomnia dapat mengatasinya dengan menjaga kesehatan tidur dengan menjaga kebersihan tempat tidur, tidak melakukan aktivitas berat sebelum tidur, memakai pakaian yang cukup longgar dan nyaman dipakai, dan meredupkan atau mematikan lampu kamar saat akan tidur. Penggunaan obat pun bisa menjadi salah satu opsi yang bisa diambil. "Asalkan dilakukan dengan kondisi yang ditetapkan oleh dokter," ujar Andri.
 

Tes Sederhana Bantu Deteksi Autisme


Tes sederhana, yang dapat dilakukan oleh orang tua pada balita, dapat membantu mengenali gejala autisme.

Tes sederhana tersebut mengajak orang tua untuk mengetahui cara balita mereka melakukan kontak mata. Tes juga melibatkan pengenalan suara, ocehan, serta gerak-gerik. Autisme dapat terdeteksi dengan memperhatikan cara balita berinteraksi. Menurut penelitian, anak-anak autisme biasanya melakukan gerakan berulang, mengepakkan tangan dan kurangnya kontak mata.

Studi yang dilakukan oleh sebuah tim dari University of California, San Diego School of Medicine, membuktikan keberhasilan tes sederhana. Dari 10.479 balita berusia 12 bulan yang mereka amati, 184 di antaranya diperkirakan memiliki gejala autisme. Balita-balita tersebut kemudian dirujuk untuk menjalani evaluasi lebih lanjut di rumah sakit. Sampai saat ini, ada 32 balita yang mendapat diagnosis sementara maupun diagnosis final mengalami autisme. Sementara 101 balita lain terhambat kondisi perkembangannya.

Karen Pierce selaku pemimpin studi tersebut mengatakan tes sederhana pada balita berusia satu tahun bisa dilakukan dokter anak di manapun. "Para orang tua akan sangat terbantu untuk mendapatkan penanganan lebih dini jika anak mereka menderita autisme," kata Pierce. Terlebih lagi, tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk melakukan tes sederhana itu.

Autisme adalah suatu kondisi seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya, anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitif, aktivitas dan minat yang obsesif. 
 
(Sumber: BBC)