Rabu, 23 Maret 2011

Kelopak Mata Bengkak Tanda Sakit Ginjal

Mengapa yah hipertensi 'akrab' dengan gagal ginjal? Bisa jadi belum banyak yang memahami hipertensi dapat menjadi pemicu utama terjadinya penyakit ginjal dan gagal ginjal. Begitu juga sebaliknya.

Saat fungsi ginjal terganggu, tekanan darah cenderung meningkat sehingga menimbulkan hipertensi. Selama ini hipertensi dikenal sebagai faktor risiko yang sangat berpengaruh bagi terjadinya serangan jantung dan penyakit pembuluh darah lainnya. Baru sebagian kecil masyarakat yang mengetahui itu. 

Fungsi utama ginjal mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit (garam) tubuh melalui urin. Ginjal juga memproduksi hormon yang memengaruhi fungsi dari organ-organ lainnya. Antara lain hormon yang merangsang produksi sel darah merah dan yang membantu menyeimbangkan tekanan darah. Juga, mengontrol metabolisme kalsium.

“Adanya kerusakan ginjal pada bagian tertentu akan merangsang produksi hormon renin yang akan merangsang terjadinya peningkatan tekanan darah hingga mengakibatkan terjadinya hipertensi yang bisa menetap,” jelas Dharmeizar, dari Divisi Ginjal-Hipertensi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM, Senin (21/3).

Selain itu, saat ginjal rusak pengeluaran air dan garam akan terganggu yang mengakibatkan isi rongga pembuluh darah meningkat sehingga menyebabkan hipertensi.

“Naiknya tekanan darah di atas ambang batas normal bisa merupakan salah satu gejala munculnya penyakit pada ginjal, selain gejala-gejala lainnya seperti berkurangnya jumlah urin atau sulit buang air kecil, penimbunan cairan, serta meningkatnya frekuensi berkemih terutama di malam hari,” terang Dharmeizar.

Gangguan fungsi ginjal akibat hipertensi dapat berupa penyakit ginjal akut, penyakit ginjal kronis, hingga gagal ginjal terminal, dimana ginjal tidak lagi dapat menjalankan sebagian atau seluruh fungsinya.

Bahkan hipertensi penyebab kejadian gagal ginjal tahap akhir nomor dua terbanyak setelah diabetes mellitus.

Menurut survei Riskesdas pada 2007,  prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31,7%. “Pada orang yang berusia di atas 50 tahun, lebih dari 50% mengalami hipertensi,” kata Suhardjono, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia.

Sedangkan prevalensi diabetes di Indonesia kira-kira 13,%% mereka. Yang berusia di atas 55 mengalami diabetes dan 15,3% masuk kategori pra-diabetes.

Mengutip riset, Suhardjono  mengatakan pasien yang mengalami gagal ginjal terminal (harus melakukan cuci darah atau hemodialisis) hanya sebesar 20% dalam jangka lima tahun. Bandingkan dengan pasien kanker payudara yang memiliki kemampuan bertahan hidup hingga 60% dalam durasi yang sama.

Pasien gagal ginjal terminal juga membutuhkan biaya yang besar untuk bertahan hidup. Di AmerikaSerikat diperkirakan biaya untuk cuci darah mencapai US$ 80.000 per tahun per orang. “Di Indonesia biayanya antara Rp 60 juta – Rp 100 juta per orang per tahun,” kata Prof Djon.

Menurut Prof Djon, pasien penyakit ginjal kronis tahap awal mempunyai risiko 5 sampai 10 kali lipat meninggal karena kejadian jantung dibandingkan pasien gangguan jantung terminal yang harus menjalani dialisis.

“Mereka yang menjalani hemodialisis di usia muda peluang hidupnya makin kecil. Ibaratnya seperti orang berusia 70 tahun,” imbuh Prof Djon.

Pasien penyakit ginjal kronis umumnya meninggal bukan karena harus menjalani cuci darah, jika sudah sampai stadium 5 atau tahap akhir, namun gangguan pada kardiovaskularlah yang acapkali menimbulkan kematian.

Dr. Dharmeizar menjelaskan saat seseorang mengalami kelainan ginjal, maka akan terjadi kelainan-kelainan yang bisa menyebabkan kerusakan di jantung, seperti anemia (kekurangan darah), toksin uremik, hiperkalemia (kadar kalium darah tinggi), malnutrisi, peradangan kronis, yang akhirnya menyebabkan gangguan metabolisme kalsium dan folat sehingga lama-lama menyebabkan kerusakan di jantung.

"Karena penyakit ginjal kronis nyaris tanpa gejala, kebanyakan pasien datang ke dokter saat sudah mengalami komplikasi atau keluhannya sudah muncul, misalnya muntah-muntah atau mengalami kelebihan cairan di paru-parunya yang membuatnya sesak napas, merasa mual, pucat dan bengkak-bengkak,” ujarnya.

Mengingat penyakit ginjal kronis minim gejala, hal yang bisa dilakukan untuk deteksi dini adalah dengan mengenali faktor risikonya.

“Teliti lagi, apakah dalam riwayat keluarga ada yang hipertensi, diabetes mellitus, jantung atau stroke. Jika ya, mulai usia 30 harus periksa kondisi fisiologis ke dokter umum. Lakukan pengukuran tensi darah, urin dan kadar gula darah dengan harga terjangkau,” saran dr. Dharmeizar.

Perhatikan tanda dan gejala yang muncul. Jika saat bangun tidur Anda mendapati bengkak pada kaki dan kelopak mata, harus dicurigai ada gangguan fungsi ginjal.

Dr Dharmeizar menjelaskan, penyakit ginjal kronis bisa dideteksi dengan tes urin sederhana untuk mengukur kadar protein dalam urin. Bila protein dalam urin (proteinuria) positif dan terjadi selama lebih dari 3 bulan maka orang tersebut bisa dikatakan mengalami penyakit ginjal kronis.

Ginjal sehat mengambil limbah keluar dari darah tetapi meninggalkan protein. Gangguan ginjal gagal untuk memisahkan protein darah yang disebut albumin dari limbah. Pada awalnya, hanya sejumlah kecil albumin dapat bocor ke dalam urin, dimana kondisi ini dikenal sebagai mikroalbuminuria, tanda gagal fungsi ginjal. 

Seiring memburuknya fungsi ginjal, jumlah albumin dan protein lain dalam urin meningkat, yaitu kondisi yang disebut proteinuria. Penyakit ginjal kronis hadir ketika lebih dari 30 miligram albumin per gram kreatinin diekskresikan dalam urin, dengan atau tanpa eGFR menurun.

“Bila pada tes urin ditemukan kadar kreatinin positif maka orang tersebut sudah mengalami penyakit ginjal kronis tingkat lanjut,” kata dr Dharmeizar.

Kreatinin adalah produk limbah yang dibentuk oleh kerusakan sel-sel otot normal. Ginjal sehat mengambil kreatinin darah dan memasukkannya ke dalam urin untuk meninggalkan tubuh. Ketika ginjal tidak bekerja dengan baik, kreatinin menumpuk dalam darah. Sebuah eGFR dengan nilai di bawah 60 mililiter per menit (mL/menit) menandakan seberapa kerusakan ginjal telah terjadi. Nilai tersebut berarti ginjal seseorang tidak bekerja pada kekuatan penuh.

Sumber: 
 

Yang Harus Dilakukan bila Terjadi Serangan Jantung

Setiap tahun, jutaan orang meninggal karena tidak segera mencari bantuan medis saat serangan jantung terjadi. Yang perlu diperhatikan adalah serangan jantung merupakan keadaan darurat medis. Dalam situasi ini, waktu berpacu dengan kerusakan otot jantung karena kehilangan pasokan darah.

Dalam buku panduan medis yang dikeluarkan Mayo Clinic disebutkan bahwa rasa tertekan atau remasan kuat di dada merupakan gejala utama serangan jantung. Serangan jantung juga bisa terjadi tiba-tiba atau didahului serangan angina (sesak di dada). Rasa nyeri yang ditimbulkan bisa menetap atau bisa hilang timbul. Bagaimanapun, rasa nyeri yang berlangsung lama atau hebat di dada atau perut bagian atas jangan diabaikan.

Bila Anda atau orang lain mengalami serangan jantung, maka segera hubungi rumah sakit yang memiliki fasilitas penanganan jantung. Menurut dr Muhammad Munawar, Sp JP (K), ahli jantung dari RS Jantung Binawaluya, Jakarta Timur, pasien jantung harus mendapat pertolongan medis kurang dari enam jam sejak terjadinya serangan.

Setiap menit yang berlalu membuat makin banyak jaringan otot yang kekurangan oksigen menjadi rusak atau mati. Jika aliran darah dapat segera dipulihkan, maka kerusakan jantung dapat dicegah atau dibatasi.

Pada dasarnya, ada dua penanganan utama pada pasien serangan jantung. "Yang pertama adalah pemberian obat trombolisis untuk membuka gumpalan dan memulihkan aliran darah. Bila diberikan kurang dari tiga jam setelah serangan, maka hasilnya sangat baik," papar dr Munawar.

Penanganan kedua adalah melakukan percutanous coronary intervension (PCI) atau intervensi koroner perkutan untuk melebarkan pembuluh darah yang menyempit. PCI yang dilakukan segera setelah serangan jantung disebut dengan Primary PCI. "Tingkat keberhasilan dari tindakan ini mencapai 95 persen bila dilakukan tidak lebih dari 95 menit dari waktu serangan jantung," tambah dr Munawar.

Untuk mendapatkan pertolongan medis yang tepat, yang perlu diperhatikan adalah membawa pasien ke rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk serangan jantung dan dokter jantungnya siaga di sana. 

Sumber: Kompas Health

5 Menit Pertama Selamatkan Nyawa

Serangan jantung merupakan keadaan darurat medis. Jangan menunda mencari bantuan medis karena dalam situasi ini setiap waktu berpacu dengan kerusakan otot jantung dan bisa menimbulkan komplikasi bahkan kematian.

Gejala utama serangan jantung adalah rasa tertekan atau remasan kuat di dada.

Gejala utama serangan jantung adalah rasa tertekan atau remasan kuat di dada. Rasa tertekan ini bisa menjalar ke leher dan terkadang disertai keringat dingin dan rasa lemas. "Bila muncul kondisi ini seseorang harus curiga apakah ia mengalami serangan jantung, apalagi kalau orang itu punya faktor risiko, seperti merokok atau menderita diabetes," kata dr.Santoso Karo Karo, Sp.JP, dari RS.Jantung Harapan Kita Jakarta.
Santoso menjelaskan, dalam 5 menit pertama, orang yang menderita serangan jantung harus segera mencari bantuan medis. "Pergilah ke rumah sakit, bukan tempat dokter praktek karena di rumah sakit tersedia bantuan yang diperlukan untuk membatasi kerusakan jantung," paparnya di sela acara kesehatan jantung di Yayasan Jantung Indonesia, Rabu (4/8/10).
Bila jarak antara rumah sakit dan pasien terlalu jauh, pasien serangan jantung bisa diberi pertolongan darurat dengan mengunyah empat tablet aspirin. Obat antikoagulan seperti aspirin atau heparin akan membuat darah tidak lagi membentuk bekuan.
"Untuk orang yang punya faktor risiko atau riwayat serangan jantung, sebaiknya selalu membawa aspirin ke manapun. Begitu muncul serangan, langsung kunyah-kunyah, bukan di telan dengan air," papar Santoso.
Dalam buku Mayo Clinic Family Health Book disebutkan, di menit-menit awal begitu terjadinya serangan jantung, akan terjadi fibrilasi ventrikel. Irama jantung yang tidak stabil ini menimbulkan denyut jantung yang tidak efektif dan otot jantung bergetar tanpa manfaat. Tanpa perawatan langsung, fibrilasi ventrikel akan mengakibatkan kematian mendadak.
Penanganan pertama serangan jantung adalah pemakaian AEDs (automatic external defribrillators). Penangangan selanjutnya akan dilakukan di rumah sakit, termasuk dengan pemberian obat-obatan untuk memulihkan aliran darah menuju jantung, seperti aspirin.
Dalam kasus serangan jantung, menurut Santoso, terdapat masa emas (golden period) untuk menyelamatkan nyawa. "Dalam waktu 20 menit sejak terjadinya serangan jantung pasien harus mendapat pertolongan. Namun yang penting 5 menit pertama pasien harus curiga sehingga bisa mencari bantuan," katanya.
Yang harus dikenali adalah serangan jantung terkadang muncul tanpa pola yang khas. "Bisa juga berupa rasa nyeri di bagian iga atau lambung sehingga sering dikira sakit maag. Perasaan tertekan juga sering dikira masuk angin sehingga sering terlambat di bawa ke rumah sakit," urainya.
Pada sebagian orang, gejala utama serangan jantung adalah tiba-tiba mengalami napas pendek-pendek yang tidak atau bisa diikuti rasa nyeri dada. Ada juga yang terkena serangan jantung dengan hanya mengalami gejala jatuh pingsan secara mendadak. Yang terpenting, bersikaplah waspada, terutama bila Anda memiliki riwayat keluarga penderita penyakit jantung, merokok, memiliki kadar kolesterol tinggi, atau menderita diabetes.

 Sumber: Kompas Health

Kenali Gejala Serangan Jantung

Keluhan serangan jantung tidak selalu seperti yang kita saksikan di layar sinetron saat aktor berakting memegang dada kiri, sementara mata mendelik, badan membungkuk, lalu tersungkur ke lantai.
Terdapat berbagai ragam keluhan serangan jantung dan gejalanya tidak sama pada tiap orang, terutama pada perempuan.
Serangan jantung yang dalam bahasa medis disebut acute miocard infark terjadi karena adanya sumbatan gumpalan darah di pembuluh koroner. Ada banyak hal yang bisa memicu serangan jantung, termasuk faktor usia, hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, konsumsi alkohol, stres, merokok, dan pola makan yang tidak sehat.
Untuk mengenali potensi serangan jantung sedini mungkin, kenali tanda-tanda penting gangguan jantung berikut ini:
Kelelahan dan sesak napas Rasa lelah yang berlebihan dan napas pendek-pendek adalah dua tanda yang coba dikirimkan tubuh agar Anda segera beristirahat. Namun, gejala ini juga bisa menjadi tanda adanya masalah pada jantung sebagai respons tekanan ekstra pada jantung.
Bila Anda sering mengeluh kelelahan tanpa penyebab yang jelas, itu bisa jadi tanda ada sesuatu yang salah pada tubuh. Napas pendek-pendek dan kelelahan ini paling sering dialami perempuan dan terjadi sebulan sebelum serangan jantung.
Keringat dingin Berkeringat lebih dari biasanya, terutama jika Anda tidak sedang melakukan aktivitas, bisa menjadi gejala awal masalah pada jantung. Hal ini terjadi karena tubuh bekerja keras memompa darah melewati sumbatan di koroner sehingga tubuh mengeluarkan keringat lebih banyak untuk menjaga temperatur tubuh.
Mual, muntah, dan nyeri perut Keluhan serangan jantung biasanya disertai rasa mual, muntah, dan keringat dingin sehingga disalahartikan sebagai masuk angin. Akibatnya, penderita tidak dibawa ke rumah sakit. Pertolongan yang semestinya segera diberikan menjadi terlambat.
Nyeri dan rasa tertekan di dada Meski tidak semua serangan jantung memiliki gejala nyeri dada, tanda ini paling sering dikenali sebagai serangan jantung. Nyeri dada yang dialami digambarkan seperti sensasi tertekan benda berat atau gajah menginjak dada.
Nyeri di seluruh tubuh Rasa nyeri dan kaku di seluruh tubuh juga sering dialami orang yang pernah mengalami serangan jantung. Kebanyakan mengalami rasa nyeri dan kebas di tangan kiri. Namun, nyeri ini juga bisa muncul di berbagai bagian tubuh, seperti atas perut, pundak, punggung, bahkan rahang.
Pertolongan pertama Ketika terjadi serangan jantung, segeralah membawa pasien ke rumah sakit. Bila memungkinkan, berilah pasien aspirin untuk dikunyah. Tujuannya adalah melancarkan bekuan darah.


Sumber : Healthline

Enam Kiat Agar Mata Lebih Sehat

Bekerja di depan komputer setiap hari akan membuat mata lelah. Belum lagi kegiatan menonton TV atau bermain game. Semua itu akan memberikan efek negatif pada mata.

Bukan tak mungkin, mata kita akan menjadi cepat rusak karena kebiasaan-kebiasaan di atas. Ketimbang mengobati, lebih baik mencegah mata dari kerusakan. Berikut ini beberapa saran dari dokter spesialis mata Dr. Bruce P. Rosenthal yang dikutip dari Fox Health:

1. Gunakan cahaya ruangan yang sesuai. Cahaya ruangan sangat berpengaruh pada kesehatan mata. Berkegiatan di dalam ruangan yang terlalu gelap (atau terlalu terang) akan membuat mata Anda kesulitan beradaptasi sehingga mengalami gangguan penglihatan. Sesuaikan cahaya lampu pilihan Anda dengan kebutuhan. 

2. Gunakan cahaya alami. Cahaya alami ruangan bisa didapatkan dari cahaya matahari. Selain itu, ruangan juga bisa tampak terang dengan pilihan warna dinding yang terang, seperti putih atau warna-warna pastel.

3. Lindungi mata. Lindungi mata Anda dari radiasi monitor komputer dan TV dengan menggunakan kacamata berlensa antiradiasi. Anda juga bisa mengunakan pelapis monitor pada komputer guna mengurangi radiasi yang masuk ke mata.

4. Sesuaikan setelan komputer. Setelan komputer juga bisa mempengaruhi kesehatan mata. Aturlah tingkat kecerahan layar komputer dengan tepat. Jangan terlalu redup, jangan juga terlalu terang. Pilihlah ukuran huruf yang sesuai dengan kemampuan mata Anda. Ukuran huruf yang terlalu kecil atau terlalu besar hanya akan membuat mata Anda letih.

5. Bersihkan layar TV dan komputer. Terkadang layar TV dan komputer yang kotor membuat kualitas gambarnya terganggu. Ketimbang mata Anda menjadi letih dibuatnya, jangan lupa untuk selalu membersihkan layar televisi/komputer sebelum memakainya.

6. Ambil posisi yang tepat. Baik memakai komputer maupun TV, selalu sesuaikan jarak pandang Anda terhadap ukuran layarnya. Jangan sampai mata rusak karena jarak Anda terlalu dekat atau terlalu jauh.

Selamat mencoba!

 Sumber: