Senin, 04 Juli 2011

Kitosan-Kurkumin Pemburu Sel Kanker

Para peneliti Fakultas Farmasi, UGM, Yogyakarta, tahun 2003 memperoleh paten Pentagamavunon-0 di Amerika Serikat, yaitu sebuah senyawa hasil modifikasi kurkumin penghambat sel kanker. Kini dikembangkan kitosan nanopartikel untuk membawa kurkumin agar lebih efektif menyasar sel-sel kanker.
Ini (modifikasi kurkumin) menjadi obat antikanker dengan kombinasi kitosan yang melapisi kurkumin dalam ukuran nanopartikel,” kata dosen dan peneliti pada Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Ronny Martien, Kamis (23/6), setelah menerima penghargaan dan dana bantuan penelitian dari Biro Oktroi dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Jakarta.
Ronny merupakan satu di antara empat peneliti muda lainnya yang diberi hibah dana penelitian oleh Biro Oktroi dan AIPI. Ronny mengajukan usulan penelitian bidang Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati.
Judul penelitiannya ”Pemanfaatan Kitosan dalam Meningkatkan Bioavailibilitas Senyawa Pentagamavunon-0 (PGV-0) sebagai Obat Analgetik-Antiinflamasi dengan Formulasi Nanopartikel”.
PGV-0 merupakan turunan analog kurkumin yang diperoleh dari rimpang kunyit dan temulawak. Menurut Ronny, PGV-0 diteliti UGM bekerja sama dengan Belanda.
Lalu, PGV-0 dipatenkan di AS dengan Nomor Paten US-6.777. 447B2. Ini mengingat banyak dilakukan riset kurkumin di negara ini dan telah menghasilkan beberapa paten pula. Kurkumin itu diperoleh dari kunyit dan temulawak yang banyak diekspor Indonesia ke AS.
PGV-0 terbukti memiliki kemampuan menghambat enzim cyclooxygenase (COX-2) yang terdapat pada sel-sel kanker. Ekspresi enzim COX-2 cenderung terus meningkat di dalam sel kanker sehingga harus dihambat untuk proses penyembuhannya.
”PGV-0 sebagai obat antikanker juga punya kelemahan berupa tingkat keterlarutan dalam air yang tergolong rendah sehingga perlu dikombinasikan dengan kitosan dengan keterlarutan di dalam air yang tinggi,” kata Ronny.
Melimpah
Ronny mengemukakan, obat antikanker dengan teknologi nanopartikel ini ditempuh melalui enkapsulasi kurkumin dengan kitosan berukuran 2-5 nanometer. Ketersediaan bahan baku untuk kurkumin dan kitosan melimpah sehingga berpeluang menjadi obat murah.
”Ada dua cara untuk menjadikan kitosan dan kurkumin ini memiliki ukuran nanopartikel,” kata Ronny.
Kedua metode itu meliputi top down dan bottom up. Metode top down menggunakan prinsip fisika dengan peralatan homogeniser yang belum ada di Indonesia dan biayanya menjadi relatif mahal. Metode bottom up pada prinsipnya ditempuh proses secara kimia dengan mencampurkan kitosan dan kurkumin tersebut.
”Saat ini belum ada industri yang menyatakan ingin bekerja sama untuk mengembangkan riset ini dan memproduksi obatnya di kemudian hari,” katanya.
Menurut dia, kelimpahan bahan baku merupakan modal utama pengembangan obat itu pada masa depan. PGV-0 mudah diperoleh dari kurkumin rimpang kunyit dan temulawak yang memiliki habitat cocok di wilayah tropis di Indonesia.
Kitosan terbuat dari kitin yang terkandung di dalam cangkang udang-udangan, termasuk cangkang kepiting. Cangkang udang, misalnya, diperkirakan mencakup 30-70 persen bagian dari tubuh udang sendiri sehingga cangkang menjadi limbah yang melimpah.
Melalui proses pemurnian, cangkang akan menghasilkan kitin sebagai senyawa aminopolisakarida yang mampu mengikat 4-5 kali berat lemak ketimbang berat kitin itu sendiri. Untuk menjadikan kitin sebagai kitosan, ditempuh melalui proses hidrolisis kitin dengan asam dan basa.
Kitosan merupakan kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya, lalu menyisakan gugus amina bebas yang menjadikan kitosan bersifat polikationik atau ion bermuatan positif.
”Karena muatan kitosan yang positif ini bisa ditempelkan dengan kurkumin yang bermuatan negatif,” kata Ronny.
Obat antikanker dengan kombinasi kitosan dan kurkumin—lebih tepatnya adalah PGV-O dengan ukuran nanopartikel—ini dimasukkan secara oral ke tubuh penderita.
Obat nanopartikel ini selanjutnya mudah diserap dan masuk ke pembuluh darah dan jaringan sel. Obat akan bekerja ketika menjumpai sel-sel kanker, terutama menghambat enzim COX-2 pada sel-sel kanker.
”Kurkumin dalam hal ini sebagai drug atau obat yang ingin diantar dengan kitosan nanopartikel,” kata Ronny.
Pada pengembangannya nanti, drug itu bisa diubah apa saja sesuai kebutuhan pasien. Obat dengan ukuran nanopartikel akan mengurangi dosis, tetapi Ronny mengakui, hasil penelitiannya belum mencapai presisi target.
”Para peneliti farmasi di dunia sekarang sedang mengejar metode pencapaian target penyakit secara presisi untuk diobati dengan obat nanopartikel ini,” ujar Ronny.
Kelimpahan bahan baku obat nanopartikel menjadi modal utama. Namun, ketekunan dan keseriusan semua pihak untuk mendukung riset ini tak kalah penting. Bahkan, amat penting.

Sumber :
Kompas Cetak

Hidup Bebas Kanker Serviks

Istilah kanker serviks ataupun kanker leher rahim bukanlah suatu yang asing lagi. Penyakit kanker serviks merupakan pembunuh nomor satu pada wanita karena sulit terdeteksi.

Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus(HPV). Menurut dr.Sigit Pribadi, Sp.OG, HPV merupakan virus yang umum dan mudah ditularkan melalui kontak kelamin.

Ada lebih dari 100 tipe HPV yang teridentifikasi dan umumnya tidak berbahaya. Kanker serviks disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18, 45 dan 31."Setiap perempuan dapat terinfeksi HPV semasa hidupnya. Perkembangan menjadi kanker pun memakan waktu yang lama," kata dr.Sigit.

Karena perjalanan penyakitnya yang lama, bisa 10-20 tahun, maka diperlukan program deteksi dini untuk menemukan kanker ini di stadium awal melalui pap smear atau IVA (inspeksi visual asam asetat).

Penularan penyakit ini 90% berasal dari hubungan seksual yang tidak sehat, misalnya seks bebas . Gejala penyakit kanker serviks juga sulit dikenali hingga tak jarang banyak orang yang tak menyadari bahwa dia telah mengidap kanker serviks, bahkan menularkannya .

Nah, berikut beberap trik untuk terbabas dari kanker serviks :

Jauhi rokok

Ini peringatan paling penting buat wanita perokok. Kecuali mengakibatkan penyakit pada paru-paru dan jantung, kandungan nikotin dalam rokok pun bisa mengakibatkan kanker serviks (leher rahim).

Nikotin mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru, juga serviks.

Diet rendah lemak

Penting diketahui, timbulnya kanker pun berkaitan erat dengan pola makan seseorang. Wanita yang banyak mengkonsumsi lemak akan jauh lebih berisiko terkena kanker endometrium (badan rahim). Sebab lemak memproduksi hormon estrogen.

Sementara endometrium yang sering terpapar hormon estrogen mudah berubah sifat menjadi kanker. Untuk mencegah timbulnya kanker endometrium, sebaiknya hindari mengkonsumsi makanan berlemak tinggi. Makanlah makanan yang sehat dan segar. Jangan lupa untuk menjaga berat badan ideal agar tak terlalu gemuk.

Hindari kekurangan vitamin C

Pola hidup mengkonsumsi makanan tinggi lemak pun akan membuat orang tersebut melupakan zat-zat gizi lain, seperti beta karoten, vitamin C, dan asam folat.

Padahal, kekurangan ketiga zat gizi ini bisa menyebabkan timbul kanker serviks. Beta karoten, vitamin C, dan asam folat dapat memperbaiki atau memperkuat mukosa diserviks.

Hindari hubungan seks terlalu dini

Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari ia sudah menstruasi atau belum. Tapi juga bergantung pada kematangan sel-sel mukosa yang terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh.

Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah wanita tersebut berusia 20 tahun ke atas. Jadi, seorang wanita yang menjalin hubungan seks pada usia remaja paling rawan bila dilakukan di bawah usia 16. Ini berkaitan dengan kematangan sel-sel mukosa pada serviks si wanita. Pada usia muda, sel-sel mukosa pada serviks belum matang.

Stop berganti pasangan

Bisa juga kanker serviks muncul pada wanita yang berganti-ganti pasangan seks. Bila berhubungan seks hanya dengan pasangannya, dan pasangannya pun tak melakukan hubungan seks dengan orang lain, maka tidak akan mengakibatkan kanker serviks. Bila berganti-ganti pasangan, hal ini terkait dengan kemungkinan tertularnya penyakit kelamin, salah satunya Human Papilloma Virus (HPV).

Penggunaan estrogen

Risiko yang sama akan terjadi pada wanita yang terlambat menopause. Karena rangsangan terhadap endometrium akan lebih lama, sehingga endometriumnya akan lebih sering terpapar estrogen. Jadi, sangat memungkinkan terjadi kanker.

Tak heran bila wanita yang memakai estrogen tak terkontrol sangat memungkinkan terkena kanker. Umumnya wanita yang telah menopause di negara maju menggunakan estrogen untuk mencegah osteroporosis dan serangan jantung.

Namun pemakaiannya sangat berisiko karena estrogen merangsang semakin menebalnya dinding endometrium dan merangsang sel-sel endometrium sehingga berubah sifat menjadi kanker.

Senin, 06 Juni 2011

Rumus Diet, Minus 7 Tambah 8 Asupan

Mengurangi frekuensi makan bukanlah cara yang efektif untuk menurunkan berat badan. Malah, jika ingin berat badan tetap ideal Anda disarankan untuk makan setiap empat jam sekali.
Perlu diketahui, "tangki" penyimpanan makanan di dalam perut hanya mampu menampung makanan sekitar empat jam pada satu kali waktu makan. Karena itu untuk menjaga agar tangki ini tidak kosong, sebaiknya Anda mengasup sesuatu setiap empat jam sekali. Ini berarti ngemil harus jadi kebiasaan di luar waktu makan.
Pengaturan frekuensi makan demikian justru akan membantu mengontrol nafsu makan. Bila perut Anda biarkan kosong terlalu lama, tubuh akan mengeluarkan sinyal tertentu sehingga Anda jadi bernafsu mengonsumsi makanan manis atau berlemak di waktu makan.
Pengaturan waktu makan menjadi lebih sering ini juga akan membantu level energi tetap tinggi. Selain itu ngemil juga sehat bagi lambung sehingga asam lambung tidak akan cepat naik. Yang perlu diperhatikan adalah jenis dan porsi camilan yang Anda makan.
Sebagai pilihan, Anda bisa mengonsumsi camilan rendah kalori yang tetap mengenyangkan seperti cookies rendah kalori, buah-buahan, agar-agar, yogurt, atau puding.

Rumus Diet, Minus 7 Tambah 8 Asupan

Menjaga berat badan dengan mengontrol asupan, diikuti peningkatan aktivitas fisik, menjadi rumus dasar diet sehat. Prinsipnya, menyeimbangkan kalori masuk dan kalori yang keluar. Harvard Medical School merekomendasikan panduan diet sehat. Anda bisa mengaplikasikannya jika ingin tubuh bugar dan berat badan ideal.

Mengurangi tujuh asupan:
  1. Garam : Kurangi asupan garam. Sebaiknya asupan garam kurang dari 2.300 miligram per hari. Asupan garam juga perlu dikurangi bagi mereka yang berusia di atas 51 tahun, dengan batasan 1.500 miligram per hari. 
  2. Kalori : Kurangi konsumsi kalori dari asam lemak jenuh. Hanya konsumsi asam lemak jenuh kurang dari 10 persen per hari. Sebaiknya perbanyak konsumsi asam lemak tak jenuh tunggal dan asam lemak tak jenuh ganda. 
  3. Lemak : Kurangi asupan lemak. Pastikan Anda mengasup lemak kurang dari 300 miligram per hari. Batasi konsumsi daging merah. Lemak tidak jenuh yang baik bagi kesehatan dapat diperoleh dari ikan (khususnya tuna dan salmon), alpukat, minyak zaitun, minyak jagung, kacang tanah, minyak biji aprikot, atau minyak bunga matahari.
  4. Asam lemak trans : Pastikan asupan asam lemak trans rendah setiap hari. Kentang goreng, misalnya, mengandung asam lemak trans.
  5. Gula : Kurangi asupan kalori dari konsumsi gula. Batasi asupan gula 3-5 sendok makan setiap hari.
  6. Makanan manis : Batasi konsumsi makan-makanan dengan kandungan gula tinggi.
  7. Alkohol : Batasi juga konsumsi alkohol. Batasi konsumsi alkohol sekali per hari untuk perempuan atau dua kali per hari untuk laki-laki.

Menambah delapan nutrisi:

  1. Pastikan kalori tercukupi ; Asup makanan secara bervariasi, namun pastikan kalori tak berlebihan.
  2. Sayur dan buah ; Konsumsilah buah dan sayuran secara bervariasi, jenis dan warna. Utamakan makan sayur warna hijau, merah, dan oranye, tambahkan juga buah serta kacang-kacangan.
  3. Kacang-kacangan ; Konsumsi setidaknya setengah porsi dari ragam biji-bijian. Masukkan asupan kacang-kacangan dalam menu harian.
  4. Susu rendah lemak ; Tingkatkan asupan susu rendah atau bebas lemak, serta produk olahan susu seperti yoghurt, keju, dan susu kedelai. 
  5. Makanan berprotein ; Variasikan asupan makanan berprotein, seperti seafood, daging tanpa lemak (seperti bagian dada ayam dengan kandungan lemak rendah), unggas, telur, kacang polong, produk kedelai, dan kacang-kacangan.
  6. Seafood ; Pilih seafood daripada daging-dagingan dalam asupan harian.
  7. Protein rendah lemak ; Pilih makanan dengan kandungan protein rendah lemak dan rendah kalori.
  8. Minyak sayur ; Untuk memasak, pilih minyak sayur untuk mengurangi asupan lemak jenuh dalam makanan.

Kemenkes Pantau Wabah E.coli

Kementerian Kesehatan RI melakukan pemantauan perkembangan penyakit akibat bakteri Escherichia coli (E. coli), yang saat ini melanda beberapa negara di Eropa, dan telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan kepada seluruh jajaran kesehatan di Tanah Air.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama dalam siaran persnya di Jakarta, mengimbau masyarakat waspada terhadap kejadian luar biasa (KLB) penyakit akibat bakteri E. Coli yang melanda negara Eropa dan Amerika Serikat beberapa waktu terakhir.
"Bakteri E.coli dapat ditemukan pada usus manusia dan binatang berdarah panas, sebagian besar strainnya tidaklah berbahaya, tetapi strain tertentu enterohaemorrhagic E. coli (EHEC) akan dapat menimbulkan penyakit berbahaya dan mematikan, seperti yang terjadi di Eropa sekarang ini," ujar Tjandra.
Gejala penyakit ini berupa sakit perut seperti kram dan diare yang pada sebagian kasus bahkan dapat mengeluarkan diare berdarah (haemorrhagic colitis). Gejala lain yang juga dapat timbul akibat penyakit itu adalah demam dan muntah.
Masa inkubasi penyakit berkisar antara tiga sampai delapan hari, rata-rata empat hari dimana sebagian besar pasien dapat sembuh dalam 10 hari, tapi pada keadaan khusus yang kini juga terjadi pada sebagian kasus di Eropa, penyakit dapat berlanjut menjadi gawat dan berat, yang disebut dengan haemolytic uraemic syndrome (HUS).
HUS ditandai dengan kegalalan ginjal akut, anemia dan kekurangan trombosit (acute renal failure, haemolytic anaemia and thrombocytopenia) dan juga gangguan neurologis sampai stroke dan koma.
Diperkirakan sampai sekitar 10 persen pasien yang terinfeksi EHEC akan berlanjut menjadi HUS yang angka kematiannya berkisar antara 3 - 5 persen.
Untuk mencegah EHEC dan HUS, Tjandra menyarankan masyarakat untuk dapat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan pakai sabun setelah buang air besar (BAB) dan sebelum makan.

Konsultasi dokter
"Seseorang yang diare disertai pendarahan dan jika menderita sakit setelah bepergian dari Jerman dan kontak dengan penderita segera konsultasi kepada dokter atau petugas kesehatan," kata Tjandra lebih lanjut.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menganjurkan lima hal bagi keamanan pangan yaitu menjaga kebersihan, memisahkan bahan mentah dengan makanan matang, memasak makanan sampai matang, menjaga makanan pada suhu aman, dan menggunakan air bersih untuk mencuci bahan pangan.
Peningkatan kasus E.Coli mulai terjadi di Jerman pada pertengahan Mei 2011-2 Juni 2011, Jerman menemukan 520 kasus haemolytic uraemic syndrome (HUS) dengan 11 kematian.
Selain itu, Pemerintah Jerman juga mencatat ada 1.213 kasus enterohaemorrhagic Escherichia coli (EHEC) dimana enam diantaranya meninggal sehingga total terdapat 1.733 kasus dan 17 kematian di Jerman.
Selain Jerman, tambah Tjandra, ada 11 negara lain yang menemukan kasus ini yaitu Austria dengan kasus HUS 0 dan EHEC dua kasus, Republik Czech (HUS 0, EHEC 1), Denmark (HUS 7, EHEC 10), Perancis (HUS 0, EHEC 6), Belanda (HUS 4, EHEC 4), Norwegia (HUS 0, EHEC 1), Spanyol (HUS 1, EHEC 0), Swedia (HUS 15, EHEC 28), Swis (HUS 0, EHEC 2), Inggris (HUS 3, EHEC 4), dan Amerika Serikat (HUS 2, EHEC 0).


Sumber :
ANT

Penderita Asma Belum Teredukasi dengan Baik

Minimnya edukasi membuat penderita asma sering kali tak mampu mengendalikan penyakitnya dengan baik. Asma yang diderita pun semakin gawat bahkan menyebabkan kematian.
Sesak napas hebat membuat penderita asma dilarikan ke instalasi gawat darurat atau dirawat di ruangan intensive care unit. Beberapa pasien meninggal sebelum tiba di rumah sakit.
”Kalau pasien bisa mengontrol sendiri asmanya, kejadian semacam itu tak perlu,” kata Heru Sundaru, pengajar Divisi Alergi Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, pada simposium ”Allergy and Clinical Immunology Network (Jacin)” di Jakarta, Sabtu (4/6).
Bila harus dirawat, kata Heru, biaya pengobatan dan perawatan penderita asma bisa tinggi. Di Amerika Serikat, biaya pengobatan asma 500 dollar AS per orang (sekitar Rp 4,5 juta).
Asma juga menyebabkan turunnya produktivitas seseorang. Penurunan produktivitas kalau dihitung berdasarkan kerugian finansial di Amerika mencapai 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 54 triliun. ”Di Indonesia belum pernah ada survei terkait biaya pengobatan. Pendataan kita lemah,” kata Heru.

Terus meningkat
Seiring kemajuan ilmu dan teknologi serta gaya hidup modern, jumlah penderita asma di Indonesia terus meningkat, terutama pada anak. Penelitian para ahli alergi dan imunologi di Indonesia menyimpulkan, ada kenaikan jumlah penderita asma pada anak-anak sekolah.
Beberapa tahun lalu sekitar 4,2 persen dari 10.000 siswa terkena asma. Tahun ini naik menjadi 5,4 persen per 10.000 siswa yang diteliti.
Tingginya penderita asma tidak spesifik pada siswa dari golongan sosial ekonomi rendah, tetapi juga siswa dari keluarga mampu. ”Faktor penyebab asma sangat beragam. Bukan sekadar lingkungan yang polutif dan kotor, tetapi juga pola makan, gaya hidup, dan genetik,” kata Heru.
Pengajar pada Divisi Alergi dan Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, Syamsu, mengatakan, meski banyak acuan penanganan asma dari lembaga internasional, asma belum tertangani baik.
”Dokter perlu memberi edukasi publik bagaimana mengelola asmanya,” katanya. Penyuluhan berkala sebaiknya diberikan di klinik-klinik pengobatan. Pasien juga diimbau memeriksakan diri rutin ke dokter.

Obati sendiri
Menurut Syamsu, kegawatan asma terjadi karena penderita sering mencoba mengobati sendiri setelah ke dokter. Obat-obatan yang diberikan diteruskan sendiri tanpa kontrol dokter. Padahal, dosis dan jenis obat yang diberikan berkala harus diganti sesuai kondisi pasien.
Asma disebut terkontrol bila tak muncul gejala baik siang maupun malam, tak terjadi keterbatasan pada pasien akibat sesak napas, dan pemakaian obat semprot yang kian jarang.

Kiat Agar Asma tak Sering Kumat

Asma merupakan penyakit peradangan saluran napas yang diturunkan. Walaupun penyakit ini tidak bisa disembuhkan namun jika dikelola dengan benar asma bisa tidak muncul hingga bertahun-tahun sehingga orang sering menyebutnya sembuh.



Sesuai dengan asal katanya yang berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti "sukar bernapas" atau "terengah-engah", jika asma sedang kumat penderitanya akan mengalami gejala sesak napas, batuk dan mengi yang menimbulkan bunyi "ngik-ngik".

Menurut dr.Iris Rengganis, Sp.PD, KAI, gejala-gejala asma itu disebabkan oleh penyempitan saluran pernapasan. "Akibatnya aliran udara yang masuk atau yang keluar dari paru terganggu. Penderita biasanya akan merasa seperti bernapas dari lubang sedotan, sangat sesak," katanya dalam acara seminar kesehatan Menghadapi Penyakit di Musim Pancaroba yang diadakan Persatuan Dokter Penyakit Dalam Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya asma, yang paling besar adalah faktor keturunan dan kerentanan atau reaksi alergi terhadap bahan tertentu. "Jika ada orangtua atau kakek nenek yang menderita alergi, anaknya beresiko menderita asma atau bentuk alergi lain," katanya.
Karena asma tidak bisa disembuhkan, pasien asma harus bersahabat dengan penyakitnya. "Ketahui faktor pencetus asmanya. Selama kita bisa menghindari pencetusnya, asma tidak akan kumat," papar dokter konsultan alergi imunologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Pasien asma memiliki hipersensitivitas pada alergen, seperti debu rumah, tepung sari dari bunga, bulu binatang, makanan, infeksi flu, polusi udara dan asap rokok, juga perubahan cuaca. 
"Ada juga pasien asma yang penyakitnya kambuh setiap kali mengalami ketegangan emosi, misalnya tertawa terbahak-bahak atau saat sedang stres. Karena itu perhatikan apa saja hal yang membuat asma kita kambuh kemudian hindarilah," ujarnya.

Obat asma
Saat ini tersedia dua jenis obat-obatan asma, yaitu yang bersifat  pengontrol dan pelega. Obat pengontrol biasanya berbentuk semprotan atau hirupan dan harus dipakai setiap hari. Obat ini harus dibawa ke manapun pasien pergi.
Sementara itu obat pelega adalah obat yang dipakai dalam keadaan darurat untuk menghilangkan gejala. "Obatnya hanya dipakai saat gejala muncul tapi tidak bisa mengatasi pembengkakan saluran napas. Karenanya obat ini tidak dipakai setiap hari," kata dr.Iris.
Selain menggunakan obat, pasien asma juga dianjurkan untuk memeriksakan diri teratur ke dokter untuk mengetahui berat ringannya penyakit sehingga obat atau cara hidup perlu disesuaikan.
Meski mengidap asma, penderita tetap disarankan untuk berolahraga karena asma tidak menghambat aktivitas fisik. "Lakukan olahraga teratur, terutama ketika penyakitnya sedang tidak kambuh dan tidak perlu memaksakan diri," ujarnya.
Penderita asma bisa melakukan senam asma karena gerakan-gerakannya bertujuan untuk memperkuat otot-otot pernapasan. Senam ini sebaiknya dilakukan secara teratur untuk hasil yang lebih optimal.



Sumber :
Kompas Cetak