Rabu, 11 Mei 2011

Efek Bahaya Dosis Obat Demam Anak

The American Academy of Pediatrics mengatakan bahwa demam bukanlah penyakit, melainkan sebuah mekanisme tubuh dalam melawan infeksi bakteri atau virus. Namun kebanyakan orangtua panik ketika anak mereka tiba-tiba demam, sebagian dari mereka bahkan langsung memberikan satu sendok paracetamol dan ibuprofen secara bersamaan.
Padahal berdasarkan studi di Amerika Serikat, menggabungkan kedua obat itu justru akan memperlama penyembuhan dan penggunaan kedua obat itu hanya dianjurkan ketika demam anak tidak turun setelah mengonsumsi salah satu dari dua obat tersebut. 

Berdasarkan The British National Formulary, dokter tidak boleh memberikan resep lebih dari empat dosis paracetamol untuk periode 24 jam, dan tidak lebih dari 4 dosis ibuprofen per hari. Sejumlah dokter memang menganjurkan pemberian paracetamol dan ibuprofen dengan dosis yang cukup untuk meminimalisasi efek samping demam pada anak. Namun, menurut aturan pengobatan The National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), penggunaan obat harus mempertimbangkan tingkat keparahan demam. 

Selama ini, kesalahan populer adalah memberi anak dosis obat untuk orang dewasa. Bukan hanya usia, orangtua juga harus mempertimbangkan postur tubuh anak. Dosis harus diperkecil dari standar bila postur tubuh anak lebih kecil, meski usia sama.

Pemberian paracetamol secara berlebihan dapat mengakibatkan asma. Sedangkan ibuprofen yang berlebihan, dapat mengakibatkan radang usus dan pendarahan. Karena itulah, orangtua harus lebih berhati-hati memberi obat pada anak. Jauhkan obat dari jangkauan anak sehingga terhindar dari efek samping pemberian obat yang melebihi dosis.

Sumber:  www.KabariNews.com/?36510

Waspada Thalassaemia Sebelum Menikah

Belum banyak orang yang mengetahui detil penyakit thalassaemia. Tidak sepopuler penyakit jantung, tapi thalassaemia justru lebih mematikan dan belum bisa disembuhkan hingga saat ini. Apalagi, jumlah pengidap penyakit bawaan ini semakin meningkat.

Menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO, saat ini terdapat 7 persen penduduk dunia membawa sifat thalassaemia. Lalu, hampir 10 persen penduduk Indonesia merupakan pembawa sifat penyakit ini, bahkan mungkin lebih besar jumlahnya.

Thalassaemia adalah penyakit keturunan karena adanya kelainan genetik pada gen globin alpha dan atau globin beta sehingga rantai globin tidak terbentuk sempurna. Akibatnya, produksi hemoglobin berkurang. Sehingga, usia sel darah merah jadi lebih pendek karena mudah rusak.

Secara genetis, thalassaemia dibagi menjadi dua. Yaitu thalassaemia alpha, yang terjadi pada globin alpa dan thalassaemia beta, yang terjadi pada globin beta. Di Indonesia sendiri, lebih sering ditemukan penderita dengan thalassaemia beta.

Berdasarkan derajat kelainannya, thalassaemia dibedakan menjadi thalassaemia mayor dan minor. Penderita thalassaemia mayor memerlukan transfusi darah 2 bulan sekali atau satu bulan sekali tergantung kadar Hb dalam darahnya. Selain itu, dibutuhkan juga penggunaan obat kelasi besi untuk menetralisir kelebihan zat besi dalam tubuh. Karena, kelebihan zat  besi dapat merusak organ tubuh mereka.

"Dalam satu hari, manusia memerlukan satu miligram zat besi, jika berlebihan, sisanya akan menumpuk di organ-organ tubuh. Timbunan zat besi pada organ akan mengganggu kinerja organ tersebut, organ pun menjadi lemah," ujar Elva Aprilia Nasution, Product Specialist Thalassaemia Prodia, saat ditemui di Jakarta.

Timbunan zat besi kerap kali ditemukan pada jantung. Inilah penyebab mayoritas pengidap thalassaemia mayor meninggal karena lemah jantung atau penyakit jantung, selain karena HIV dan hepatitis akibat tranfusi darah yang tidak benar.

Orang dengan thalassaemia mayor memiliki ciri-ciri berwajah pucat serta limpa membesar akibat besarnya sel darah merah yang dibuang. Termasuk perubahan bentuk muka seperti penonjolan tulang dan lebam, bercak-bercak hitam pada kulit karena timbunan zat besi, gangguan pertumbuhan, dan menderita gizi buruk.

Berbeda dengan thalassaemia mayor, orang dengan thalassaemia minor hanya membawa sifat thalassaemia dan tidak menderita penyakit. Akan tetapi, orang dengan thalassemia minor atau disebut pembawa sifat thalassaemia dapat menghasilkan anak thalassaemia mayor jika menikah dengan orang yang juga pembawa sifat.

Penyakit ini adalah penyakit turunan yang tidak dapat disembuhkan. Dan, dapat menular pada keturunan selanjutnya, maka pencegahan hanya dapat dilakukan dengan menghindari perkawinan sesama pembawa sifat.

Pengobatan untuk penyakit thalassaemia termasuk mahal. Menurut data dari laboratorium medis, Prodia, satu orang anak dapat menghabiskan Rp200-300 juta per tahun. Biaya ini sudah termasuk biaya transfusi darah dan obat kelasi besi. Jika tidak dilakukan pengobatan, anak dengan thalassaemia mayor hanya dapat bertahan beberapa bulan saja atau paling lama 2 tahun.

Bagaimana pencegahannya?

Sebelum menikah, pasangan dianjurkan untuk melakukan tes kesehatan melalui pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah mereka membawa sifat atau tidak. Jika sesama pembawa thalassaemia menikah, mereka akan memiliki kemungkinan anak 25 persen normal, 50 persen pembawa sifat, dan 25 persen thalassaemia mayor.

Kemungkinan ini terjadi secara beracak. Jika sudah terlanjur hamil, ibu harus menjalani tes pranatal pada usia kehamilan 2 bulan untuk mengetahui kondisi jabang bayi. Jika ternyata bayi menderita thalassaemia mayor, pasangan tersebut diberikan pilihan mempertahankan kehamilan atau menggugurkannya.

Lalu, jika salah satu pasangan adalah penderita thalassaemia mayor dan yang lainnya adalah pembawa sifat, maka mereka akan menghasilkan kemungkinan anak 50 persen thalassaemia mayor, dan 50 persen pembawa sifat. Kedua kondisi di atas sangat tidak dianjurkan untuk memiliki anak kandung.

Namun, jika salah satu dari pasangan menikah adalah pembawa sifat, sedangkan yang lainnya normal, maka mereka memiliki kemungkinan punya anak 50 persen pembawa sifat dan 50 persen normal. Bagi seseorang dengan thalassaemia mayor yang menikah dengan orang normal maka mereka akan memiliki kemungkinan punya anak 100 persen pembawa sifat.

Kedua kondisi tersebut masih bisa memiliki anak kandung. Untuk menghindari hal ini dan sebagai langkah awal pencegahan, pemeriksaan kesehatan sebelum menikah sangat penting dilakukan. 

VIVAnews

Obat Penurun Panas Tingkatkan Risiko Kanker

"Penggunaan empat kali seminggu secara rutin tingkatkan risiko kanker"

Obat pereda nyeri otot dan sendi serta penurun panas lazim dikonsumsi saat demam atau saat pilek. Hati-hati, karena penggunaan obat pereda nyeri secara teratur meningkatkan risiko kanker darah.

Menurut peneliti, kandungan bahan kimia acetaminophen dalam obat penurun panas berkaitan dengan beberapa jenis kanker. Penelitian serupa terhadap obat jenis aspirin menemukan bahwa obat ini menurunkan kematian akibat kanker usus besar namun meningkatkan risiko pendarahan dan sariawan. Namun, hal ini tidak menjelaskan kaitannya dengan darah, ataupun kanker.

Penemuan ini menambahkan bukti yang terkait dengan kanker dan obat penghilang rasa sakit ini. Para ilmuwan meneliti hampir 65 ribu orang tua dan wanita di Washington. Pada tahap awal, mereka ditanya terkait penggunaan pereda nyeri selama 10 tahun terakhir dan memastikan mereka tidak mengidap kanker.

Selang enam tahun, terdapat sel kanker pada darah 577 orang. Kanker tersebut mencakup kanker darah putih dan sindrom myelodysplastic atau sindrom preleukimia. Lebih dari 9 persen responden yang mengidap kanker adalah konsumen obat pereda nyeri dalam tingkat tinggi.

Studi juga memperhatikan faktor umur, arthritis, dan sejarah kanker darah pada keluarga. Pengguna obat pereda nyeri memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mengonsumsinya.

"Studi kami menunjukkan bahwa jika Anda menggunakan pereda nyeri setidaknya empat kali seminggu selama paling sedikit empat tahun, maka akan ada peningkatan risiko sekitar dua persen," ungkap Emily White dari Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle, dikutip dari Daily Mail.
Namun hasil studi mendapat penolakan dari ahli lainnya. Dr Raymond  DuBois, dan Anderson MD.  Ahli pencegah kanker dari Universitas Texas dan Cancer Center di Houston ini, mengatakan bahwa pereda nyeri bekerja sangat berbeda dari obat penghilang rasa sakit lainnya sehingga memiliki efek yang berbeda pada kanker.

"Sangat mengejutkan bahwa penggunaan pereda meningkatkan resiko kanker darah," ujar DuBois.

White mengatakan bahwa penggunaan jangka panjang setiap obat pasti memiliki risiko tertentu. Karenanya, ia selalu menganjurkan konsumen untuk mengetahui efek samping dari setiap obat.

White menambahkan, studi masih dalam tahap awal sehingga belum ada bukti  kuat acetaminophen dan aspirin dapat menyebabkan kanker.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan acetaminophen dengan asma dan eksim. Tetapi para ilmuwan juga masih tidak setuju apakah obat  itu adalah penyebab sebenarnya atau terdapat faktor lainnya.

Penelitian ini mengalami masalah yang sama dengan penelitian sebelumnya karena banyak orang menggunakan obat tersebut mungkin pernah mengalami pengobatan medis lainnya yang memiliki efek samping meningkatkan risiko kanker. 

  VIVAnews

Mengamankan Diri dari Stroke

Satu dari empat orang yang terserang stroke meninggal dalam setahun. Mereka yang lolos dari maut dapat menderita cedera otak yang berpengaruh pada kemampuan bicara, daya ingat, dan pola pikir, juga kelumpuhan.

Kabar baiknya, jika Anda langsung menyiapkan diri dari sekarang, Anda dapat mengurangi sebagian besar risiko Anda, baik sekarang maupun dengan bertambahnya usia. Proses menuju penyakit stroke dimulai pada awal usia 40-an atau sebelumnya. Karena itu, sekaranglah saat yang tepat untuk mulai mencegahnya.

Matikan rokok
Jika Anda berhenti merokok, risiko terkena serangan jantung dan stroke berkurang hingga setengahnya. Namun, jangan mengurangi rokok. Merokok banyak atau sedikit pada dasarnya sama saja. Anda harus menghentikannya sama sekali.

Periksa tekanan darah
Stroke terjadi bila pembuluh darah otak pecah atau adanya pecahan plak aterosklerosis yang lepas dan menyumbat aliran darah ke sebagai otak. Stroke lebih sering terjadi pada orang dengan tekanan darah tinggi. Penelitian menunjukkan, mengendalikan tekanan darah tinggi dapat memangkas risiko stroke hingga 40 persen. Dalam hal ini tekanan darah 140/85 dianggap tinggi.

Kurangi berat badan
Jika berat badan naik, maka yang bertambah paling banyak adalah jaringan lemak. Kelebihan lemak juga dihubungkan dengan meningkatnya kolesterol jahat dan trigliserida. Dengan berjalannya waktu, perubahan lemak darah ini ikut berperan dalam pembentukan timbunan lemak (plak) pada arteri, kondisi yang dikenal sebagai aterosklerosis. Penurunan berat badan sekecil apa pun pasti bermanfaat pada kesehatan.

Sempatkan diri olahraga
Tubuh kurang gerak menambah faktor risiko untuk menderita stroke. Penelitian menunjukkan, orang yang mulai berolahraga secara teratur antara usia 15-25 tahun mempunyai risiko yang lebih kecil untuk menderita stroke dibanding mereka yang tidak berolahraga.

Perbanyak serat
Batasi asupan semua jenis lemak, termasuk daging merah dan makanan yang digoreng, dan ganti dengan serat yang larut yang dapat menurunkan kadar kolesterol total. Makanan yang mengandung serat larut, antara lain oatmeal, kacang-kacangan, golongan jeruk, stroberi, dan apel.

Hindari stres
Kebahagiaan laksana musik untuk sistem kardiovaskular. Para peneliti dari University of Texas Medical Branch, Amerika Serikat, menyebutkan, di antara orang lanjut usia, mereka yang mempunyai mood positif dan bahagia lebih jarang terkena stroke. Para peneliti mengatakan, orang yang bahagia pada umumnya mempunyai semangat berolahraga dan pola hidup sehat. Kombinasi yang menjauhkan kita dari risiko stroke.

Sumber :

Tensi Berfluktuasi, Awas Kena Stroke!

Orang yang mengidap hipertensi memiliki risiko tinggi terkena stroke, apalagi jika tekanan darahnya berfluktuasi. Untuk itu, tekanan darah perlu dijaga dalam keadaan normal dan stabil.

Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah, baik sistolik mapun diastolik, sama atau lebih dari 140/90 mmHg. Para peneliti dari Universitas Oxford, Inggris, menemukan bahwa tekanan darah yang terus berubah-ubah justru lebih berbahaya dan berisiko stroke.

”Pada beberapa orang hipertensinya sangat stabil, tetapi tekanan darah yang bervariasi, kadang naik dan kadang sangat tinggi lebih, berbahaya daripada yang stabil,” kata Dr Peter Rothwell, profesor neurologi dari Universitas Oxford, dalam jurnal The Lancet dan The Lancet Neurology.

Dalam risetnya, ia mengamati tekanan darah tinggi dan variabilitasnya pada 2.000 responden yang dibagi dalam empat kelompok, masing-masing pernah mengalami stroke minor yang disebut transient ischemic attatck (TIAs).

Rothwell menemukan bahwa orang yang punya variasi sistolik sangat tinggi (lebih tinggi dari 120/80) atau dalam 7 kali kunjungannya ke dokter tekanan darahnya bervariasi, lebih berisiko terkena stroke. ”Selama ini dampak dari variasi hipertensi kurang diperhatikan. Seharusnya dokter membuat diagnosis berdasarkan tekanan darah pasien pada tiap kunjungannya,” katanya.

”Petunjuk klinis yang ada selama ini membuat dokter kurang mengindahkan hipertensi yang tidak tetap, padahal peningkatan tekanan darah yang tinggi dan kadang-kadang juga berisiko tinggi terkena stroke dan penyakit vaskuler lainnya. Karena itu, jangan terlena dengan kadar tekanan darah yang terkadang normal tetapi pada saat lain naik,” kata Rothwell.

Untuk mengatasinya, sebaiknya dokter meresepkan obat antihipertensi yang tidak cuma menurunkan tekanan darah, tapi juga menstabilkannya untuk pasien yang tekanan darahnya berfluktuasi. ”Obat yang bisa membuat tekanan darah stabil tanpa menurunkan tekanan darah rata-rata masih bisa membantu menghindari stroke,” ujarnya.

Variabilitas tekanan darah dapat diketahui pada setiap kunjungan pasien ke dokter. Meski demikian, sebenarnya akan lebih baik apabila pasien juga memonitor tekanan darahnya di rumah secara teratur.

Pada penduduk usia 50 tahun ke atas, kejadian hipertensi mencapai 40-65 persen. Untuk mencegah stroke, selain kadar tekanan darah, pasien juga perlu memerhatikan faktor lain, seperti merokok, diabetes, dan kelebihan berat badan.


Sumber :
Healthday News