Rabu, 11 Mei 2011

Tanda-tanda Stroke

Sering terjadi, seseorang diserang penyakit stroke tanpa menyadarinya, karena tidak memahami tanda-tanda atau gejala awalnya. Seringkali stroke juga menyerang orang-orang tertentu dan pulih sendiri, lebih dikenal sebagai transcient ischemic attack (TIA) yang disebut juga stroke sementara. 

Sejatinya, seperti diungkapkan Dr.Hermawan Suryadi, Sp.S, dari Karmel Stroke Center, Jakarta, TIA adalah salah satu pertanda bakal ada serangan stroke. Banyak penderita mengaku pernah mengalami gejala serangan stroke dan sembuh dengan sendirinya.
Sekitar 20-40 persen stroke didahului oleh TIA. Karena itu jangan terkecoh dan jangan sekali-kali mengabaikan serangan TIA. 

Dibutuhkan kewaspadaan tinggi pada orang-orang yang berisiko terkena stroke bila mengalami gejala-gejala di bawah ini:
  1. Muncul tanda-tanda kehilangan rasa atau kelemahan pada muka, bahu, atau kaki, terutama bila hanya terjadi pada separuh badan.
  2. Merasa bingung, sulit berbicara atau menangkap pembicaraan lawan bicara.
  3. Kesulitan melihat pada sebelah mata atau keduanya.
  4. Tiba-tiba kesulitan berjalan, merasa pusing, dan kehilangan keseimbangan atau koordinasi.
  5. Sakit kepala yang amat sangat tanpa diketahui apa penyebabnya.
Bila Anda memiliki tanda-tanda tersebut, segeralah menghubungi dokter untuk mendapatkan pertolongan.

Sumber

Makanan Lebih Banyak keluarkan Toksoplasma dibanding Kucing

Fakta yang ada, penyebaran toksoplasma paling umum terjadi dari sayuran mentah atau sayuran yang tidak dicuci dengan benar serta makanan yang dimasak dengan tidak sempurna,” ujar Dr. Liliane Grangeot-Keros seorang pakar imunologi dari Universite Paris Sud II pada acara di Jakarta beberapa waktu lalu seperti dikutip dari Antara.

Kucing sering dituding sebagai penyebab utama toksoplasma. Tapi ternyata infeksi toksoplasma pada perempuan lebih banyak disebabkan oleh konsumsi makanan mentah atau yang dimasak tidak sempurna.

Toksoplasma merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh parasit toxoplasma gondii yang penyebarannya bisa terjadi melalui makanan atau air yang sudah terkontaminasi serta bisa juga ditularkan dari hewan ke manusia. “Pada binatang, toksoplasma bukan berasal dari bulunya tapi dari kotoran yang dikeluarkan, jadi bukan karena mencium-cium kucing. Dan risiko toksoplasma lebih besar dari anjing dibanding kucing,” ujar Dr Yuditia Purwosunu, SpOG(K) dari divisi Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI.

Infeksi toksoplasma pada orang dewasa atau perempuan yang sedang hamil umumnya tidak menimbulkan gejala. Kalaupun ada, biasanya berupa meriang atau demam ringan sehingga ia tidak akan mengetahui jika bayi yang dikandungnya berisiko terinfeksi.
Pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh menurun atau rendah, maka infeksi toksoplasma bisa berakibat besar terhadap morbiditas dan juga mortilitas bayi yang sedang dikandungnya.

Dr Keros mengatakan jika parasit ini ditularkan ke bayi yang sedang dikandung maka bisa menyebabkan gangguan atau kelainan pada janin seperti:
  • 5-10 persen kehamilan akan mengalami keguguran spontan.
  • 8-10 persen kehamilan menyebabkan bayi lahir dengan kerusakan mata atau otak yang    parah. 
  • 10-13 persen kehamilan menyebabkan bayi lahir dengan gangguan penglihatan (visual handicaps).
“Karenanya pemeriksaan (screening) untuk TORCH (Toksoplasma, rubella, cytomegalovirus/CMV dan herpes simplex) sangat penting dilakukan pada saat trimester pertama kehamilan,” ujar Dr Keros yang juga menjadi penasehat WHO untuk infeksi rubella. Jika seseorang diketahui terinfeksi toksoplasma, maka ia akan diberikan perawatan untuk mengurangi risiko penularan parasit tersebut ke tubuh si janin yang sedang dikandung.


Sumber: www.KabariNews.com/?36605

Seruan Mencegah Stroke

Setiap tahunnya 15 juta orang di seluruh dunia mengalami stroke. Di kawasan Asia Pasifik, pada tahun 2004 terdapat 5,1 juta orang yang terkena stroke untuk pertama kalinya. Angka ini lebih tinggi daripada angka kasus baru kanker. 

Faktor risiko stroke memiliki banyak kesamaan dengan risiko serangan jantung, yaitu usia, jenis kelamin, tekanan darah tinggi, merokok, diabetes melitus, serta kadar kolesterol yang buruk. 

Beberapa kondisi lain pada jantung dan pembuluh darah juga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena stroke, misalnya gagal jantung kongesif atau gangguan irama jantung. Dengan kondisi tersebut jantung tidak mampu memompa darah secara efisien atau tidak dapat berdenyut secara teratur. Hal ini memicu terbentuknya penggumpalan darah pada salah satu bilik jantung.

“Setiap tahunnya jutaan orang dengan gangguan irama jantung (atrial fibrilasi/AF) yang mengalami stroke akan menjadi lumpuh, tanpa memandang usia,” kata Trudie Lobban, Pendiri dan Penyantun, Arrhythmia Alliance, dan Co-founder dan CEO, Atrial Fibrillation Association.
Stroke terkait AF lebih berbahaya, menyebabkan kelumpuhan yang lebih besar dan memiliki prognosa yang kurang baik dibanding stroke pada pasien tanpa AF. Untuk itu, para pakar jantung di Asia Pasifik belum lama ini berkumpul dalam acara Asia Pacific Congress of Cardiology (APCC) ke-18 yang antara lain mengusulkan agar diambil tindakan segera untuk mencegah stroke pada pasien atrial fibrilasi (AF) di Asia Pasifik.

“Angka kejadian stroke di kawasan Asia Pasifik terus meningkat dan menimbulkan masalah kesehatan masyarakat serta beban ekonomi yang signifikan," kata Dr.Sim Kui Hian, kepala departemen kardiologi dan kepala pusat klinis RS Serawak, Malaysia, dalam siaran persnya.
Salah satu rekomendasi yang diberikan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak AF dan stroke, mengembangkan metode diagnosa dini untuk penilaian risiko stroke pada pasien AF, serta mengambil pendekatan baru untuk mencegah stroke pada pasien dengan AF.

 Sumber: Kompas Health

Website Khusus Kanker Serviks

Kurangnya pemahaman masyarakat tentang penyakit kanker serviks menjadikan banyak orang tidak menyadari bahaya penyakit mematikan bagi wanita tersebut, pasalnya lebih dari 70 persen mereka yang berobat dan terdekteksi mengidap kanker serviks baru memeriksakan diri setelah stadium lanjut dan peluang kesembuhannya kecil.

Komunikasi dengan dokter yang kurang intensif pun jadi salah satu penyebabnya, hal ini disampaikan dr. Sigit Purbadi, Sp.OG(K) dari Insitaf Pencegahan Kanker Serviks Indonesia (IPKASI). “Sebagian besar dokter kita kurang komunikatif dan tidak suka mendidik pasiennya. Ditambah lagi masyarakat juga tidak punya akses informasi yang cukup sehingga terjadi gap informasi,” paparnya.

Melihat keprihatinan itu, dokter yang tergabung dalam IPKASI, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada pencegahan kanker serviks, hari ini (28/4) meluncurkan situs www.kankerserviks.com untuk memberikan informasi kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di situs berbahasa Indonesia dan Inggris itu memberikan banyak informasi seputar kanker serviks, mulai dari gejala, penyebab sampai pencegahannya. Para pembaca juga dapat berkonsultasi langsung secara online dengan dokter untuk menanyakan penyakit seputar kanker serviks.

Dalam sehari puluhan wanita terdiagnosis kanker mematikan ini dan lebih dari 20 wanita meninggal dunia. Dengan adanya situs ini diharapkan kesadaran masyarakat khususnya wanita agar sedini mungkin mendeteksi dan memeriksakannya. Vaksinasi merupakan pencegahan primer terhadap kanker servikas. Mendeteksi diri dengan papsmear atau IVA dapat dilakukan untuk pencegahan sekunder yang fungsinya mendeteksi sel abnormal atau lesi prakanker.
Lakukan pencegahan sebelum terlambat, penyakit pembunuh nomor satu wanita ini bisa mengancam siapa saja.

Sumber: http://www.kabarinews.com/?36667

Hapus Noda Jerawat dengan Cara Alami

MERASA tak yakin dengan cream/ gel yang konon bisa menghilangkan bekas jerawat? Tak apa, keraguan itu wajar kok, apalagi jika harganya cukup mahal dan ternyata malah menimbulkan iritasi di wajah. Tentunya akan sayang sekali, kan?

Jika memang Anda tak yakin dengan cream/ gel penghapus bekas jerawat, Anda bisa mencoba beberapa bahan alami yang bisa ditemukan di dapur, seperti:

Irisan jeruk lemon/ jeruk nipis

Sari jeruk lemon atau jeruk nipis dapat menyamarkan bekas noda jerawat dan menghapusnya secara perlahan. Efek bleaching alami memang sudah terkandung dalam sari jeruk tersebut.

CARANYA:

Iris beberapa lemon/ jeruk nipis. Peras sarinya, kemudian maskerkan di wajah secara rutin sebelum tidur. Diamkan selama 10-15 menit dan lakukan setiap hari.

Rasanya mungkin agak sedikit menyengat seperti jarum yang menusuk-nusuk di kulit. Namun noda jerawat akan memudar setidaknya dalam jangka 2-3 minggu. Plusnya adalah, pori-pori lebih kecil, serta kulit tidak terlalu berminyak.

Irisan lidah buaya

Adalah vitamin yang terkandung pada sari lidah buaya yang dapat melembabkan, menghapus noda jerawat serta mengurangi efek peradangan di kulit.

CARANYA:

Sama seperti jeruk nipis/ jeruk lemon, Anda bisa memaskerkan sari lidah buaya ini di wajah. Bedanya, lakukan pemaskeran sebelum mandi, karena pada umumnya ada rasa lengket setelah bermasker dengan lidah buaya.

Ketimun

Buah yang satu ini sudah terkenal dan seringkali dipercaya bisa menghilangkan noda bekas jerawat dengan mudah. Manfaat astringentnya melembabkan kulit dan membuat kulit wajah lebih kenyal dari biasanya.

CARANYA:

Iris tipis-tipis daging buah ketimun, dan tempelkan di wajah kurang lebih 10-15 menit sebelum tidur. Nikmati rasanya yang dingin dan segar, dan tak perlu dibilas. Biarkan hingga keesokan harinya.

Cuka Apel

Selain diminum, cuka apel juga berkhasiat untuk menghilangkan bekas jerawat. Alkohol dan vitamin yang terkandung di dalamnya bisa mencegah peradangan, sekaligus menyamarkan noda.

CARANYA:

Oleskan hanya pada bagian-bagian yang bernoda saja. Jangan meratakan ke seluruh kulit wajah, karena alkohol yang terkandung di dalamnya bisa membuat kulit jadi kering

Jangan lupa, selain melakukan perawatan di atas, minum 8 gelas air mineral setiap hari agar kulit tetap segar dan lembab.

Silahkan mencoba....